karena menemani beberapa murid saya di magelang yang ingin menonton film, pada hari minggu kemarin untuk kedua kalinya saya nonton laskar pelangi. untuk sedikit informasi, laskar pelangi baru mulai diputar di magelang pada tanggal 16 Desember. saya tidak tahu kondisi penonton pada hari-hari sebelumnya, tp kemarin setengah jam sebelum film dimulai antrian penonton masih cukup panjang. dari anak-anak smp dan smu yang pergi dengan pasangan atau dengan rombongan sebaya, keluarga dengan gerombolan anak2 balita sampai usia sd yang entah semua bersaudara atau ada anak tetangga yang kebetulan ikut, anak-anak muda sampai pasangan suami istri seumuran orang tua saya yang sudah diatas 50 tahun juga ada.
berbicara tentang usia, sepertinya usia bioskop ini juga sudah cukup tua. ruangan besar miring dengan 300an kursi, tanpa AC, peredam suara yang bentuknya ajaib karena seperti kasur tiup yang ditempel di langit-langit. kursi statis yang mungkin seperempatnya sudah hilang bantalannya sehingga ketika diduduki serasa kita sedang duduk di bangku papan, proyektor tua yang berbunyi gemelitik saat memutar pita seluloid, tata suara yang jika saya boleh meminjam istilah the upstairs, sangat 17-an. dan ketika film diproyeksikan ke layar, terlihat sudah cukup banyak goresan di pita seluloid yang menandakan pita tersebut sudah demikian banyak kali diputar sebelum akhirnya mendapat giliran diputar di magelang. mungkin karena itu semua, tiketnya hanya tujuh ribu rupiah.
terlepas dari kondisi tersebut, antusiasme pononton sepertinya tidak terpengaruh, entah mereka demikian rindu tontonan atau memang film ini begitu dinanti. bahkan ketika di tengah film sempat terjadi blank screen selama hampir satu menit, penonton masih cukup sabar memandang layar gelap meskipun ada beberapa celetukan “koyo sandiwara radio” karena audio film masih yang tetap terdengar. saya yang ketika menonton les choristes menangis empat kali, hanya menangis dua kali saat pertama menonton laskar pelangi, pada saat surat lintang dibaca dan saat di akhir film lintang berbicara kepada anaknya. tetapi kemarin, duduk di bangku keras di ruangan besar, gelap dan tanpa AC, di antara murid-murid saya yang berganti-ganti ekspresi antara serius menonton, menitikkan air mata terharu dan tertawa-tawa sambil berkomentar tentang tingkah anak-anak laskar pelangi, air mata saya mengalir selama hampir sepanjang film. saat itu adalah salah satu momen terbaik yang saya alami saat menonton film.
ps : karena telah terlanjur berbicara tentang laskar pelangi, ada momen yang sangat saya sukai di buku yang tidak ditulis menjadi bagian dalam film oleh mas salman. saat ikal rela masuk sumur demi bertanggung jawab karena kegagalannya menjalankan misi mengambil kapur di toko sinar bahagia dengan sempurna. tapi saya juga menyadari bahwa adegan tersebut beresiko jika ditonton anak-anak, bisa jadi mereka menyimpulkan bahwa masuk sumur itu adalah kegiatan yang wajar-wajar saja. dan jika saya diijinkan membuat adaptasi dari karya sastra seseorang, saya tidak akan merasa berhutang pada karya sebelumnya jika membuat perubahan. mengutip komentar antonio skarmeta tentang film il postino yang diadaptasi oleh michael radford dari novel ardiente paciencia atau burning patience miliknya, “saya harus bisa menerima bahwa kreatifitas orang lain selalu membawa energi baru, sesuatu yang baru. jika saya tidak dapat menerima hal itu, maka saya tidak akan merelakan novel saya difilmkan oleh orang lain”.